The Thinker

Darimana Agamamu? (Part I)

Sekitar tahun 1980an (mungkin sekitar tahun 1988-1989), paman saya mengajukan sebuah pertanyaan yang cukup mengguncang iman, kejadian itu cukup membekas dipikiranku sampai saat ini.

Bagaimana bila yang terjadi di akhirat nanti ternyata agama yang benar justru bukan Islam?

Kegelisahan

Beberapa orang yang saya temui merasa nyaman-nyaman saja dengan agamanya. Bagi mereka, Islam itu merupakan sebuah anugerah yang telah dia dapat dari kedua orangtua. Hampir kebanyakan dari mereka tidak pernah bertanya tentang bagaimana agama yang telah mereka anut sampai sejauh ini, semuanya pengetahuan yang didapatkan merupakan pengetahuan sisipan dari orangtua selebihnya adalah dari sekolah dan guru mengaji.

Benar atau tidak tidak pernah diselami. Hal inilah terjadi ketika itu aku menemukan sebuah buku dari teman tentang perdebatan Islam Versus Kristen di tahun 1990an. Buku itu sangat tebal, mungkin tebalnya sekitar 800-900 halaman. Teman saya itu menemukannya dari tong sampah yang dikutipnya, karena takut menyimpannya maka diberikanlah buku itu kepada saya. Sayang sekali buku itu tidak pernah tersentuh samasekali karena saya pun merasa takut yang luar biasa. Ketakutan ini disebabkan oleh adanya larangan dari orangtua tidak boleh menyentuh (membaca) sesuatu yang berbau agama selain Islam. Larangan itu cukup beralasan, tanpa adanya pemahaman yang baik maka akan semakin jauh imannya atau bahkan berbalik menjadi murtad.

Akhirnya saya dan teman saya itu memutuskan untuk membakarnya tanpa membaca terlebih dahulu. Inilah keputusan yang terpaksa kami ambil karena selama menyimpan buku itu muncul perasaan tidak aman, was-was kalau buku itu ketahuan, takut ditemukan oleh orangtua meskipun sudah disembunyikan.

Beberapa bulan kemudian perihal penemuan buku itu saya ceritakan kepada paman saya, dia merasa kecewa. Lalu berceritalah tentang pentingnya buku itu untuk dibaca. Disela-sela pembicaraan itu bertanyalah paman saya itu: “Bagaimana bila yang terjadi di akhirat nanti ternyata agama yang benar justru bukan Islam?”. Pertanyaan itu cukup mengguncang iman bagi saya yang masih bersekolah kelas satu SMA. Sayang sekali, paman saya itu memberikan tugas yang cukup berat untuk menemukan jawaban itu sendiri….

Sayed Muhammad adalah lulusan psikologi Universitas Islam Indonesia, ia adalah perintis dan penulis tetap di website Pikirdong. Pernah mengajar mata kuliah Psikologi Pendidikan di STAIN Malikussaleh, kini bekerja lepas sebagai desainer dan photographer

Leave a Reply

Be the First to Comment!

avatar
  Subscribe  
Notify of