The Thinker

Darimana Agamamu? (Part II)

Tidak Menemukan Jawaban yang Memuaskan

Pertanyaan paman saya itu terus menghantui pikiran saya, akhirnya saya mencoba untuk curhat kepada teman, kebanyakan mereka menuduh saya murtad, telah keluar dari Islam. Kebanyakan dari mereka takut dengan pertanyaan saya, sebagian dari mereka memilih untuk menjauh atau meninggalkan pembicaraan. Beberapa teman lain mencoba menasehati untuk tidak berpikir terlalu jauh.

Karena rasa penasaran yang begitu besar, akhirnya saya bertanya kepada guru (privat) mengaji saya, saat itu saya berpikir bahwa guru saya itu dapat memberikan jawaban yang tepat. Ternyata dugaan saya justru meleset, saya justru dimarahi karena berpikir seperti itu. Beliau mengatakan bahwa untuk mendapatkan ilmu tersebut haruslah belajar ilmu al Quran lebih mendalam dan lebih lama. Putus asa jadinya mendengar jawaban tersebut.

Ada beberapa pertanyaan yang berkembang setelah itu ketika saya merenung dalam kesendirian, “kenapa saya harus Islam? Apa buktinya Islam itu agama yang benar? Bagaimana dengan agama lain diluar sana yang juga menganggap sebuah kebenaran? Lalu sapakah yang benar?” pertanyaan itu terus berlanjut; “Untuk apa Tuhan menciptakan surga dan neraka berlapis-lapis? Siapakah penghuni tiap lapisan itu? Adakah kehidupan setelah kematian itu?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus tumbuh seiring dengan waktu. Meskipun ketika awal SMP dulunya saya bersekolah dikelas dimana banyak teman saya non muslim, saya pernah bertukar pikiran dengan teman mereka yang selalu berakhir dengan pertengkaran kecil. Namun tidak pernah berpikir hakikat dari perbedaan tersebut. Awal SMAlah pergelutan itu semakin terasa dan semakin memberatkan untuk dipikirkan.

Hampir semua orang yang saya temui memberikan jawaban dalam bentuk doktrinitas, ya begitulah sudah diatur oleh sang khalik, itu adalah jawaban keputus-asaan terhadap persoalan-persoalan yang saya ajukan. Bukankah awal turunnya Islam itu sendiri diharuskan umat Islam untuk berpikir? Bolehkah?

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka.'” (Ali ‘Imran: 191)

Dunia Maya

Awal kuliah di Jogja memang menyenangkan, bertemu teman baru, lingkungan baru dan masyarakat baru. Dan… permainan baru: internet. Tahun 1997 saya mulai gandrung internet, entah berapa website yang sudah saya coba buat, disinilah saya membuang waktu yang lebih lama daripada kuliah, hehehe.

Tahun-tahun itu jejaring sosial masih melalui relay chat bernama mIRC, melalui komunitas inilah saya mengenal sebuah website debat antar agama : faithfreedom. Hampir semua laman saya baca, tidak hanya isi perdebatan itu sendiri, tetapi juga opini-opini kebebasan berekspresi dari pelbagai pemikiran orthodox sampai pada skepticism. Semuanya membuat isi pikiran berkecamuk. Konon, dari beberapa orang yang menganggapnya sebagai aktivis jejaring sosial Facebook pun sering mencuri ide-ide ini untuk dilontarkan di status-status mereka. Tidak menarik!

Namanya juga ruang debat, tidak jarang orang-orang baru bermunculan disitu, tidak lain adalah bertujuan untuk menghujat karena tersinggung agamanya diotak-atik, saya menganggap hal ini lumrah, namanya juga dunia maya, bebas donk berkespresi asal tidak ketahuan siapa asli orangnya, hehehehe.

Membaca pemikiran orang lain akan mempengaruhi pikiran kita, hal ini saya terasa sekali ketika perdebatan itu bertemu titik jenuh, tidak ada pangkal atau ujungnya, tidak ada kesimpulan, tidak ada konklusi, -pada akhirnya berbicara pada diri masing-masing. Akhirnya banyak tulisan-tulisan itu mengarah pada atheism. Ini salah satu cara yang diambil ketika bahan pembicaraan menjadi stagnan dari topik pembicaraan dan ide-ide krusial yang dicetuskan.

[Bersambung]

Sebelumnya…

Sayed Muhammad adalah lulusan psikologi Universitas Islam Indonesia, ia adalah perintis dan penulis tetap di website Pikirdong. Pernah mengajar mata kuliah Psikologi Pendidikan di STAIN Malikussaleh, kini bekerja lepas sebagai desainer dan photographer

Leave a Reply

Be the First to Comment!

avatar
  Subscribe  
Notify of