Celoteh

Mak! Payudaraku Kecil!!

Intro:
Tulisan ini gue tulis di tahun 2004, saat itu heboh dengan kematian seorang cewek akibat dari pembesaran payudara melalui suntik silikon. Konon, sang cewek melakukannya karena permintaan pacarnya.

Mak! Payudaraku Kecil!! © September 2004

Baru-baru ini ada wanita tewas, tapi tewasnya bikin heboh seantero Indonesia, sampe pedagang bakso keliling juga tau, penyebabnya adalah karena,… toketnya terlalu kecil, demikian kata tukang bakso. Berbicara tentang ukuran semua orang pengen yang besar, adalah hal lumrah, apalagi bakso ukuran besar pasti enak rasanya. Kalo dipikir memang benar kata tukang bakso tadi, tukang-tukang cari berita sibuk mencari tau tentang kematian si cewek itu, polisi utak-atik cari penyebabnya, psikolog juga sibuk buka buku-buku cari teori mutakhir biar dianggap keren kalo ditanya ulasannya. Sebuah anekdot yang tragis…

Wanita sekarang sibuk mengejar sebuah target semu, yang diklaim oleh produk massa sebagai bentuk ideal. Tubuh ideal, cantik, seksi dsb, kriterianya adalah ditentukan oleh produk tersebut. Pikiran kita udah dicuci, media massa menyebarnya sebagai busa pencuci otak cukup sekali colek tapi bisa mencuci banyak. Kecuali tukang bakso yang jarang nonton teve, karena kesibukannya berdiplomasi keliling kelurahan, selebihnya kita sangat susah melepas televisi sebagai teman penghilang rasa penat. Akibatnya kita sangat tergantung dengan televisi. Iklan-iklan membajiri seluruh pelosok kota syaraf, tidak hanya Jakarta saja yang selalu banjir kalau hujan. Perlahan-lahan pesan iklan tertanam di otak kita. Kalau diperhatikan tetapi juga dipikirkan; ada juga iklan yange aneh, sebuah produk yang mencuci otak wanita untuk tampil dengan kulit putih, kalo putih tidak akan ditinggalkan cowok, ada juga si shinta dan shanti, pilih mana si hitam apa si putih? Wah, kenapa mesti pilih-pilih? Keduanya saja! Hehehe

Nah, ada juga iklan sebaris seperti ini; “Payudara besar meningkatkan rasa percaya diri Anda!” Untunglah pria tidak perlu repot membesarkan payudara ternyata iklan tersebut diperuntukan untuk wanita. Anehnya kalo kita denger ada gauman hentikan tindak kekerasan terhadap wanita, wanita menuntut karir yang sama dengan pria, hentikan eksploitasi seksual kaum wanita, lucunya juga ada ratusan orang penggemar Inul Daratista berdemo dibawah terik matahari menuntut pencekalannya di teve. Anehnya juga tidak pernah ada orang berdemo karena produk kosmetik telah mencuci otak orang untuk tampil lebih seksi, lebih putih, lebih cantik yang telah mengeluarkan ratusan duid receh setiap bulannya untuk mempercantik diri untuk mengejar “ideal” dan agar tidak disebut ketinggalan jaman.

Dunia aneh, tergantung kita melihat, tetapi tidak ada yang aneh untuk pikiran yang terbuka, bukan pakaian terbuka. Kalau bicara buka-bukaan pria paling seneng, si wanita mesem-mesem saja karena biasanya pakaian yang dibuka adalah pakaian wanita bukan si pria. Mana ada laku tabloid yang menampilkan cowok berpakain bikini atau memakai baju tipis berpose genit menggoda

Kalau sudah berbicara sampe sini, wanita bisa ngambek, lalu menyalahkan pria karena mengeksploitasi seks, akhirnya perbedaan gender semakin terlihat, buku-buku mulai berperang lagi dengan perbedaan gender, akhirnya satu fenomena itu terus berputar seperti siklus, pakar dan ahlinya pakar pun mulai angkat bicara, enaknya tukang bakso tidak sibuk memikirkan hal ini, ia hanya angkat gerobaknya semakin jauh berjalan untuk menghidupi diri dan keluarganya. Saya jadi ingat katanya Erasmus, semua orang berlomba-lomba menjadi lebih baik, tetapi pendidikan masyarakatnya tidak pernah menjadi baik.

Nah, ini dia, pendidikan. Waktu saya masih kecil, rasanya senang sekali sehabis pulang sekolah bila mendapat nilai 10 lalu menunjukkan nilai tersebut pada orang tua. Pujian terus mengalir. Tapi giliran dapat nilai 4 saya kelabakan mencari tempat untuk membuang hasil ujian saya, ketahuan bisa saja kena damprat dan diomelin sebulan, barangkali juga Anda mengalaminya. Nah, lhoo… Apa yang salah dengan pendidikan? Kalo dipikirkan dan selesai dalam sehari bisa bikin rambut cepat ubanan sebelum waktu, akhirnya saya harus membeli cat penghitam rambut agar orang tidak menilai saya si tua bangka.

Ketika kuliah dulu saya jadi ingat orang mengatakan bahwa IP haruslah minimal 3 dan semua dosen memperhitungkan angka ini sebagai angka kualitas kelulusan. Perusahaan selalu menanyakan angka 3 terpampang di jidat atau tidak, sebagai angka kualitas tersebut.

Ketika Fortune, perusahaan komputer raksasa di Amerika bangkrut, Rata-rata gaji mereka adalah 20 rebu sampai 30 rebu dollar, orang-orang bekualitas ini memilih bunuh diri, depresi dan kehilangan semangat untuk hidup. Atau kejadian seorang anak di wilayah kita, saya lupa tempatnya, baru-baru ini terjadi menyiram anaknya dengan air panas karena tidak naik kelas.

Masyarakat kita telah terprogram dengan istilah kualitas, mereka berlomba-lomba berusaha memasukan anaknya di sekolah-sekolah yang bermutu dan terkenal, juga universitas dan institusi pendidikan lainnya. Perusahaan-perusahaan pun juga tidak mau ketinggalan untuk merekrut orang-orang lulusan dari produk bermutu ini.

Padahal, pendidikan-pendidikan tersebut tidak pernah mengajarkan anak apa yang mesti dilakukan bila dirinya gagal, sekolah tidak pernah mengajarkan tentang konsep diri, menghargai diri dan menjadi dirinya sendirinya, sekolah tidak pernah mengajarkan bagaimana mesti bersikap dengan orang lain dan mengharga eksistensi manusia sebagai manusia yang sederajat di mata Tuhan. Bahkan universitas psikologi pun tidak pernah mengajarkan itu.

Ribut-ribut udah menjadi kebiasaan kalau sesuatu terjadi di luar kendali, fenomena menjadi hangat bagai kacang rebus yang laris di musim penghujan, setelah usai musim hujan, lari lagi ke tukang bakso. Ada juga orang skeptis, mungkin saja sudah bosan dengan kelakuan orang lain, ngurus diri sendiri belum becus ngapain mikirin orang lain, demikian pikirnya.

Nah, kalo udah ada yang skeptis ada juga yang estimasi, bisa dibilang ngefans banget, kalo udah ngefans susah bersikap objektif, karena sikap over estimate akan membuat orang buta, misalnya saja sudah jelas program-program pemerintahan gagal dijalankan oleh presiden, tapi masih juga ada yang milih, kalau sudah ngefans ama kopi, di campur susu pun tetap dibilang kopi, bukan kopi susu. Kalau ada yang ngeyel bilang kopi susu apalagi susu, caranya hanya satu cara agar kopi susu tersebut harus dibilang oleh semua orang tetap kopi; kekerasan. Boleh-boleh saja koq minum kopi susu tapi bilang kopi, toh dia sendiri yang ngerasain, bukan saya apalagi Anda yang mesti protes. Tapi kalo kopi susu dibilang susu berarti ada yang tidak beres, orang bikin kopi tapi menambah susu kedalam kopi lalu dibilang kopi, korupsi! Lucunya udah begitu tanpa malu ngaku bayar segelas kopi, susu ga dihitung lalu bilang sama penjual; “saya cuman minum kopi koq”, tanpa rasa malu. Kalau ditunjuin bukti malah nangis, bikin orang iba saja.

Ngomong-ngomong tentang kopi susu jadi ingat kembali tentang kulit hitam dan putih, saat ini wanita barangkali, dugaan saya, berlomba-lomba pengen kulitnya putih, kalau bisa ada kosmetik bikin putih dalam sekejap pasti bakal dibeli. Nah, kalau ada otak telah terprogram seperti ini bisa gawat, bisa-bisa muncul lagi akhlak jaman purba, diskriminasi, tapi ini khusus warna kulit bukan ras. Akhirnya muncul kata-kata seperti ini, “Iiihh, pake hitam sapa takut? kulit itaaam? Taaaakuuuuttt!!!”

Dolo, saya pernah dihina begini, kebetulan teman saya itu putih banget; “Yed, kulit loe itam banget yaa?” Sambil meletakan tangan saya di tangannya, kontras! Kalau saja ada mesin yang bisa bikin orang pintar hingga mengerti tentang hakikat manusia dan Tuhan, pengen banget rasa gue beliin buat tuh orang daripada beli pemutih kulit!

Nah, sesuai dengan topik awal tentang bakso yang dijual orang, makin besar rasanya makin enak, itu bakso! Bukan payudara! Buat apa payudara mesti dipermak? Apa ada tulisan seperti ini di ATM-ATM seluruh penjuru dunia: DILARANG MASUK BAGI MEREKA BERPAYUDARA KECIL (?), kalau ada yang mempermasalahkan tentang ukuran ini, saran saya silhakan tanya saja kepada yang bersangkutan, kirim email buat Tuhan, tanyakan pada Tuhan kenapa payudaraku kecil. Tidak ada yang salah dengan warna dan bentuk tubuhmu, kalau ada yang mempermasalahkan, berarti otaknya masih memakai konsep lama, struktur otak manusia purba!

Iklan seperti itu adalah propaganda palsu! Pernahkah Anda berpikir daun pohon kenapa ada yang berwarna hijau, kuning merah dan warna lainnya? Apa yang membuat warna tertentu tersebut? Jawabnya adalah klorofil, kalau pada manusia adalah pigmen. Pigmenlah yang membuat warna kita berbeda dengan yang lain. Kenapa supermodel seperti Iman, Naomi Campbell tidak mempermasalahkan warna kulitnya? Bagaimana dengan orang keturunan Afrika yang kulitnya berwarna gelap?

Jangan bersikap bodoh karena iklan yang tolol, saya pernah berpikir, kenapa produk iklan seperti itu tidak dijual di Afrika ya? Ada yang bisa mengganti warna daun pohon dengan warna lain? Lihat bule yang berjemur bertahun-tahun, apa warna dia berubah menjadi hitam? Memang warna kulitnya berubah, tapi sifatnya sementara atau pigmennya mati. Kalau tidak salah kita pelajarin semua ini di sekolah menengah, pelajaran biologi bukan pelajaran “trend”

Sayed Muhammad adalah lulusan psikologi Universitas Islam Indonesia, ia adalah perintis dan penulis tetap di website Pikirdong. Pernah mengajar mata kuliah Psikologi Pendidikan di STAIN Malikussaleh, kini bekerja lepas sebagai desainer dan photographer

Leave a Reply

Be the First to Comment!

avatar
  Subscribe  
Notify of