Facebook

Budaya Jilbab itu Budaya Arab

jilbab

maria-mantra-mp3Bismillahirahmanirrahim.

Sebuah gambar yang diambil dari sebuah website dengan diedit sebuah kalimat; “Budaya jilbab itu budaya Arab bukan Budaya Nusantara.” menyebar di Facebook dengan pelbagai komentar di sebuah group. Menariknya sang posting sepertinya memang tidak mengerti apa yang sudah dipostingkannya itu, membaca komentar beberapa orang saya kira telah menjawab tentang postingan si penderita islamphobia dengan tepat, diantara jawaban teman -ternyata dalam Kristen juga ada jilbab. Tidak usah jauh-jauh lihat saja ilustrasi Bunda Maria yang berjilbab. Sungguh cantik, bukan?

Lalu apa hubungannya saya menulis tulisan ini, bukankah beberapa teman telah memberikan jawabannya? Ntahlah, postingan tersebut membuat saya sedikit kesal, setelah saya menemukan beberapa kali gambar yang serupa di page dan forum yang lebih mengarah pada liberalisme dan sekularitas. Kalau dicermati postingan tersebut tidak ada hubungan samasekali antara jilbab dan budaya. TAPI saya sendiri melihat postingan tersebut lebih sifatnya rasial dan tendesius untuk menjelek-jelekan umat Islam atau dengan tujuan penghapusan kewajiban berhijab bagi kaum muslimin [1]. Beberapa teman saya non muslim pun ikut melakukan share gambar tersebut. Inilah yang membuat saya ingin membuat catatan pribadi terhadap postingan tersebut.

Pertama, pengertian kata budaya sendiri tidaklah tepat dihubungan dengan jihab, “budaya hijab” [2]. Hijab tidak dibuat oleh sekelompok orang secara turun temurun, membedakan atara budaya kerudung. Hijab merupakan perintah Tuhan kepada manusia;

[5] But every woman that prayeth or prophesieth with her head uncovered dishonoureth her head: for that is even all one as if she were shaven . [6] For if the woman be not covered , let her also be shorn : but if it be a shame for a woman to be shorn or shaven , let her be covered .
[1 Corinthians 11:5-6] (King James Version)

“…Tell your wives and your daughters and the women of the believers to draw their cloaks (veils) all over their bodies That will be better, that they should be known (as free respectable women) so as not to be annoyed (molested or insulted)…”
[Quran 33:59]

Bila demikian, bila orang Kristiani sangat membenci hijab maka ia sungguh telah membangkang terhadap Alkitabnya sendiri dan perintah Tuhannya. Bukankah Tuhan telah menyuruh umatnya menggunakan hijab; “Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya.” [1 Korintus 11 – 6].

Kedua, maraknya pro kontra mengucapkan selamat natal dan bebeapa rumor baru ini mengenai pemaksaan baju natal kepada kaum Muslimin [3], maka dengan membalikkan apa yang telah dipostingkan diatas, sah sah saja kalau saya mengatakan bahwa; untuk apa mengucapakan dan merayakan BUDAYA natal yang bukan ritual orang Kristen? Toh, Natal sendiri tidak ada dalam ritual Kristen yang sebenarnya [4]. Lihat;

“Christmas was not among the earliest festivals of the church… It was not instituted by Christ or the apostles, or by Bible authority. It was picked up of afterward from paganism.”
[Encyclopedia Britannica, 1946]

It was, according to many authorities, not celebrated in the first centuries of the Christian church, as the Christian usage in general was to celebrate the death of remarkable persons rather than their birth…” (The “Communion,” which is instituted by New Testament Bible authority, is a memorial of the death of Christ.) “…A feast was established in memory of this event (Christ’s birth) in the fourth century. In the fifth century the Western Church ordered it to be celebrated forever on the day of the old Roman feast of the birth of Sol, as no certain knowledge of the day of Christ’s birth existed.”
[Encyclopedia Americana. 1944]

Lihat dalam Bible; mungkin ayat inilah yang meinspirasikan Herbert W. Armstrong menulis tentang perayaan natal sebagai bentuk paganisme [?].

Yeremia 10:2-4

10:2 The Lord says, “Do not start following pagan religious practices. Do not be in awe of signs that occur  in the sky even though the nations hold them in awe.
“Janganlah biasakan dirimu dengan tingkah langkah bangsa-bangsa, janganlah gentar terhadap tanda-tanda di langit, sekalipun bangsa- bangsa gentar terhadapnya. Sebab yang disegani bangsa-bangsa adalah kesia-siaan.”

10:3 For the religion 3  of these people is worthless. They cut down a tree in the forest, and a craftsman makes it into an idol with his tools.
“Bukankah berhala itu pohon yang ditebang orang dari hutan, yang dikerjakan dengan pahat oleh tangan tukang kayu?

10:4 He decorates it with overlays of silver and gold. He uses hammer and nails to fasten it  together so that it will not fall over.
Orang memperindahnya dengan emas dan perak; orang memperkuatnya dengan paku dan palu, supaya jangan goyang.”

Bagaimana menurut pendapat Anda?

 

 

 

 

——————-

Credits:

[1] Lihat berita ini:
Ketua PGI tak Setuju Penerapan Jilbab Bagi Polwan. Link
Ketua Persekutuan Gereja tak Setuju Penerapan Jilbab Bagi Polwan. Link

[2] Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Link

[3] ‘Jangan Ada Pemaksaan Pegawai Muslim Pakai Atribut Natal’. Link

[4] The Plain Truth About Christmas. Link Booklet. Link

Bunda Maria Picture: Source here

Postingan di Facebook : Klik disini [Posting sewaktu-waktu dapat dihapus]

 

Sayed Muhammad adalah lulusan psikologi Universitas Islam Indonesia, ia adalah perintis dan penulis tetap di website Pikirdong. Pernah mengajar mata kuliah Psikologi Pendidikan di STAIN Malikussaleh, kini bekerja lepas sebagai desainer dan photographer

Leave a Reply

Be the First to Comment!

avatar
  Subscribe  
Notify of