Celoteh

Korupsi dan Nasionalisme

Aceh lon sayang Aceh lon malang…

Tulisan ini saya buat setelah 6 bulan lebih pasca tsunami di Aceh yang terjadi penghujung desember 2004 lalu. Program pemulihan baik fisik dan psikologis gencar dilakukan di seluruh pelosok Aceh. Namun seiring dengan itu isu korupsi pun sangat luar biasa terjadi, inilah yang disebut “tsunami moral” yang sesungguhnya…

Tulisan ini sudah dilakukan editing berkali-kali mengingat dan mempertimbangkan… blah blah blah

Korupsi dan Nasionalisme © Juni 2005

Sebuah koran lokal baru-baru ini menulis sebuah wawancara dengan salah seorang peninjau pembangunan dan rehabilitasi Aceh setelah musibah tsunami, entah siapa nama wanita itu, seorang dari lembaga PBB yang meninjau ke Aceh, ia memang cantik untuk golongan kulit putih walau rambutnya tidak begitu pirang, barangkali wartawan lokal itu kepincut melihat kecantikannya sehingga perlu melakukan wawancara penting. Hasilnya, wawancara tersebut terpampang dihalaman depan surat kabar di daerah itu keesokan harinya.

Surat kabar itu dibaca hampir di pelosok kota bahkan sampai kedesa-desa, tidak ada yang aneh dengan tulisan tersebut, semuanya tertulis dengan rapi sesuai dengan tatanan layout harian tersebut, bahkan wajah manis wanita itu pun ikut terpampang dengan senyuman. Seperti biasanya, tulisan itu ditulis dengan ukuran yang bisa terbaca dengan mata normal, hanya saja judulnya yang agak besar dari hasil wawancara tersebut.

Beberapa orang terlihat duduk di warung kopi sedang membaca koran yang memang disediakan oleh pemilik kedai, beberapa orang yang membacanya ikut mengernyit kening dan tampak serius, bahkan beberapa orang tua yang terlihat tidak begitu lancar membaca pun berusaha membaca sampai tuntas, perhatian terfokus pada kolom-kolom yang terdapat pada harian tersebut. Sesekali kepalanya terangguk-angguk. Baris kalimat dibaca tanpa ada kata yang terlewatkan. Serentak beberapa orang itu berseru “wah, cantiknya!!”

Di suatu gedung besar penuh dengan ruang yang ber-AC dengan kursi empuk, beberapa orang terlihat juga membaca harian tersebut, hanya saja kernyitan keningnya tidak pernah hilang sejak memulai membaca kolom wawancara tersebut. Serentak beberapa orang itu berseru “wah, pelecehan!!”

Entah bagaimana caranya, wartawan tersebut juga pada akhirnya ikut mewawancarai orang-orang tersebut. Seperti kebakaran jenggot beberapa orang yang merasakan terlecehkan dengan pernyataan harian pada edisi sebelumnya perlu melakukan pembelaan dan koreksi. Beberapa orang lainnya pun ikut memberikan tanggapan yang menolak tuduhan seperti yang dilontarkan oleh pejabat PBB tersebut. Usut punya usut ternyata dalam kolom wawancara sebelumnya tertulis; …semua tahu reputasi korupsi di negara ini….”. Pantas saja beberapa orang merasa terbakar jenggotnya. Ternyata kata-kata tersebut sangat sensitif untuk disebutkan. Beberapa waktu yang akan datang lembaga penelitian bahasa rasanya perlu memasukan kata tersebut sebagai kata yang tabu untuk diucapkan di negeri ini.

Berbicara hal tabu emang sangat sensitif di negeri ini, orang terkekang mengucapkan kata-kata tersebut di depan publik, seperti sudah dipatenkan atas kepemilikan. Orang dapat dituntut dengan alasan pelecehan, pencemaran nama baik, atau bahkan tindakan makar sekalipun. Ibu-ibu pun tak mau ketinggalan memperingati anaknya yang keceplosan ngomong dengan alasan pamali alias tabu untuk dibicarakan. Anak pun jadi diam tak mengerti kenapa hal itu dilarang untuk di omongkan. Apa yang salah? Pikirnya.

Di negeri ini beberapa orang yang membongkar masalah korupsi pun tidak luput dari hukum. Beberapa orang malah dipenjara ketika membuka aib tersebut, akan tetapi di pengadilan malah tindakan kasus korupsi yang diadukan malah tidak terbukti. Entah hasil rekayasa atau unsur fitnah, kita tidak pernah tahu karena memang dilarang untuk membicarakannya dengan alasan tabu. Hasilnya, yang tertuduh malah balik menuduh sebagai pencemaran nama baik. Semua orang akhirnya juga tahu bahwa si A melakukan fitnah hanya saja kalimat itu diperhalus menjadi pencemaran nama baik.

Di China yang dulunya sebagai nomor satu di dunia sebagai pelaku tindakan korupsi telah menggantung ratusan orang yang dituduh melakukan korupsi. Kalau kita bercermin di negeri ini, hati-hati dengan melontarkan kalimat tersebut, kita malah diseret ke pengadilan. Dengan alasan bahwa negeri ini adalah negara hukum yang menganut praduga tak bersalah, sampai orang itu dinyatakan bersalah di pengadilan atau sampai pelaku melarikan diri keluar negeri. Hanya saja di China begitu isu korupsi terdengar badan pemberantasan korupsi langsung bertindak dan mengaudit semua keuangan sampai perusahaan atau individu tersebut benar-benar terbebas dari isu tersebut.

Di negeri impian, kekayaan negara merupakan milik masyarakat yang mesti dipertanggungjawabkan kepada publik, sangat tabu menggunakan uang tersebut untuk memperkaya diri. Bahkan uang sepeserpun tidak dapat digunakan tanpa sepengetahuan publik. Sayangnya itu hanya sebuah negeri impian yang entah kapan kita dapat belajar dari mereka. Namanya juga negeri impian mana ada orang bersusah payah memikirkannya. Tahyul katanya. Ironisnya, hampir semua televisi berlomba-lomba menayangkan acara yang bersangkutan dengan tahyul, dimulai dengan pencarian setan, wawancara dengan dukun atau bahkan setan pun kalau bisa bermain sinetron. Seakan-akan inilah klenik bangsa kita yang memang akrab dengan tahyul. Pamor para dukun juga meningkat, akal pun tidak perlu digunakan lagi. Tinggal nunggu semburan sang dukun, peninggalan sejarah bangsa pun perlu dibongkar, ada harta karun bisik sang dukun.

Negara Thailand juga terkenal dengan korupsinya, korupsi dilakukan ditempat umum adalah hal yang biasa. Tak heran bila kita sering melihat orang berbaju pemerintah tidak segan mengeluarkan amplop di depan khalayak ramai. Orang pun tidak selalu menganggap hal itu sebagai uang sogokan. Amplop tersebut dapat berupa tips sebagai pelayanan makan di restoran. Hanya saja kita harus jeli melihat siapa orang menerima amplop tersebut. Lucunya, entah siapa yang menambah anekdot tersebut menjadi cerita yang sedikit mengerikan, kalau di Indonesia, menurut catatan tambahan tersebut, jangan ada rasa malu menyogok dengan tujuan tertentu, meja di restorant tersebut pun sampai hilang!

Bedanya adalah Indonesia adalah negara dengan mayoritas orang yang mempunyai agama, 99% barangkali penduduknya tertera dalam KTP mengisi untuk keterangan beragama. Lain halnya kalau pelaku korupsinya adalah orang yang tidak mempunyai pegangan agama, toh tidak ada larangan dan ajaran moral yang diterima atau menjadi hal yang bersifat prinsipil baginya. Koruptor selalu beranggapan bahwa Tuhan akan selalu mengampunkan dosa umatnya. Jadi, melakukan korupsi sekali atau berkali-kali pun Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang akan mengampunkan dosanya. Jadi biarlah korupsi menjadi bagian perilaku yang lumrah dalam kehidupan ini.

Di negara ini, orang menjadi kaya secara mendadak merupakan kebanggaan sebagai tanda seseorang telah sukses dalam hidupnya, sementara di penjuru lain di negeri ini bayi-bayi menangis karena kekurangan gizi. Harga tak terjangkau untuk membeli susu. Kalau anak semakin keras menangis akan membuat sang bapak menjadi kalap, mencuri ayam milik tetangga menjadi salah satu cara yang terlihat untuk membeli sepertiga dari isi kaleng susu. Cara itu tidak disukai oleh tetangganya yang merasa terus kehilangan ayam-ayamnya. Polisi pun ikut menangani kasus tersebut sebagai “kasus pencurian ayam” yang tertulis dalam berita acara pemeriksaan. Hakim pun tidak segan-segan memukul palu dan menghukum pencuri ayam dengan seberat-beratnya sekeras dengan ketukan palu.

Nasionalisme yang katanya cukup mengakar pada masyarakat kita merupakan hasil perjuangan bangsa kita sendiri untuk memperkukuh rasa persatuan yang di cetuskan oleh Soekarno dan beberapa tokoh nasional. Tujuannya adalah mempersatukan wilayah Indonesia menjadi suatu bagian yang integral. Hanya saja wacana wawasan nasionalisme itu menjadi dangkal, kita akan ribut bila melihat negara lain membakar bendera negara kita, kita juga akan mencaci bila wilayah kita dimasuki oleh orang lain dengan alasan menginjak martabat bangsa, kita bahkan beramai-ramai akan mengutuk ketika negara lain melecehkan bangsa kita, tetapi kita hanya bisa berguman ketika harta bangsa ini terus dikorupsi.

Seorang anak yang masih bersekolah menengah bertanya kepada ayahnya ketika melihat sebuah gambar tikus di koran yang sedang dibaca ayahnya, tikus itu sedang menggorogoti uang. Dirinya merasa heran melihat perilaku yang digambarkan di harian tersebut. “Yah, kenapa tikus suka makan uang?” tanya anak itu. “…hmm, karena tikus itu suka menggorogoti apa saja, itu menggambarkan pelaku korupsi” jawab ayahnya dengan rasa ragu. “Tapi Yah,.. bukankah lebih tepat dengan gambar babi bukannya tikus!? Bukankah babi suka makan apa saja yang ditemukannya?” tanya anak itu kembali. Ayahnya menjadi bingung, “karena babi itu haram!” Jawab ayahnya ketus sambil membayangkan kalau gambar tikus seandainya adalah seekor babi mungkin lebih cocok seperti kata anaknya.

Si anak barangkali berasumsi babi adalah rakus setalah melihat ladang ayahnya kemarin hari hancur berantakan setalah sekawanan babi hutan merusak berbagai tanaman yang ditanam di ladang tersebut tanpa tersisa….

atas

Sayed Muhammad adalah lulusan psikologi Universitas Islam Indonesia, ia adalah perintis dan penulis tetap di website Pikirdong. Pernah mengajar mata kuliah Psikologi Pendidikan di STAIN Malikussaleh, kini bekerja lepas sebagai desainer dan photographer

Leave a Reply

Be the First to Comment!

avatar
  Subscribe  
Notify of