Celoteh,  Facebook

Ini Facebook bukan Forum!

10443385_10203153368616462_3000210307680582066_n

 

Pemilu 2014 lalu telah usai, banyak hal yang membekas dalam pemilu kali ini bagi saya tersendiri. Terutama bermunculannya para aktivis dan politikus keyboard di media sosial seperti facebook dan twitter. Padahal pada jaman dulu, postingan opini politik seperti itu hanya ditemui di forum-forum, ditulis dengan rapi, cerdas, intuitif dan bila perlu lengkap dengan pelbagai referensi yang mendukung sebagai thread yang berbobot. Thread dibuat juga tidak menyentuh hal-hal rasial, personal atau menyinggung hal-hal yang sifatnya menjadi hak orang lain.

Thread di forum berbeda dengan status media sosial, namun ketidaktahuan hal ini beberapa orang juga menyebut postingan statusnya sebagai thread layaknya seperti forum, padahal beda sekali. Status di sosial media hanya bisa dibaca 15-20% dari jumlah friend untuk setiap kali status yang diposting. Siapa yang bisa membaca? Media sosial seperti Facebook, Google+ dan Twitter menggunakan sistem kekerabatan, artinya keterdekatan orang tertentu sebesar 20%  dari total jumlah teman maksimal dari newsfeed yang muncul. Bila Anda bereteman dengan si A maka facebook akan meletakan A sebagai lingkaran teman terdekat, bila kita terus menambah teman sementara A tidak pernah memberi komentar status kita maka si A atau sebaliknya akan berada diluar lingkaran terdekat, bahkan untuk lingkaran terjauh setiap postingan status kita atau si A tidak akan pernah muncul lagi di neswfeed kita. Singkatnya bila Anda mememiliki 1.000 orang teman, status Anda hanya bisa dibaca sekitar 180-200 orang saja. Oleh karena media sosial seperti facebook tidalah cocok sebagai ajang Anda untuk ber- advertising bila Anda memiliki usaha kecil-kecilan. Sementara thread dalam forum bisa dibaca oleh siapapun member/nonmember dan tidak tergantung pada jumlah member forum sehingga postingan thread tersebut dapat dijangkau oleh siapapun.

Postingan karakter di media sosial terbatas, ya karena ini adalah media sosial! Fungsinya tak lebih sebagai ajang bertemu teman-teman, berkenalan, atau mengikat silahturahmi seperti awal-awal konsep yang dibangun oleh CEO facebook, Mark Zuckerberg. Meskipun ruang karakter lebih luas telah disediakan oleh Facebook melalui app Notes. Opini terlalu panjang di status media sosial juga tidak menarik untuk dibaca, bukankah lucu bila kita beropini di medsos yang sebenarnya bukan tempatnya? Tepatnya adalah blog (gratis lhoo!), menulislah di blog lalu silahkan di-share di media sosial, ini lebih menarik!

Media sosial seperti Facebook tidak merekam keseluruhan aktivitas di akhir tahun. Jadi sangat susah melakukan backlink terhadap status kemaren atau yang lama, dan facebook hanya merekam postingan trending personal, artinya postingan yang memliki like/komentar terbanyak akan disimpan selebihnya tidak. Berbeda dengan dengan forum, kita bisa melakukan backlink terhadap postingan sebelumnya, sehingga runtutannya pun jadi mudah diikuti.

Keterbatasan di media sosial bagi bagi beberapa orang digunakan untuk berpolitik praktis, sungguh kadang saya muak sekali membacanya memenuhi newsfeed saya dengan status yang tidak berkompeten, tidak mencerdaskan, kadang menyinggung ras tertentu, bahkan menantang, lihatlah mereka menulis distatusnya “siapa seh orang-orang yang pernah mendukung pilpres kemaren?” Inilah yang membedakan mereka yang saya sebut sebagai politikus keyboard di media sosial. Kadang saya berpikir apa sekarang orang tidak mengerti hakikat pemilu itu sendiri? Kenapa? Karena status facebook tidak butuh trackback, atau referensi apapun, mengerti atau tidak, –tidak begitu penting, terpenting adalah eksis! Dan selamat menikmati, tidak perlu diladeni, hahaha!

Sayed Muhammad adalah lulusan psikologi Universitas Islam Indonesia, ia adalah perintis dan penulis tetap di website Pikirdong. Pernah mengajar mata kuliah Psikologi Pendidikan di STAIN Malikussaleh, kini bekerja lepas sebagai desainer dan photographer

Leave a Reply

Be the First to Comment!

avatar
  Subscribe  
Notify of