Celoteh

Playboy: Mari Telanjangi Wanita Indonesia!

Playboy masuk ke Indonesia? Wow keren! Icon pornografi internasional itu akhirnya bisa masuk ke Indonesia. Hugh Hefner boleh berbangga, Indonesia yang terkenal dengan budaya ketimuran mengijinkan bendera kelinci itu berkibar negeri yang terkenal dengan adab kesopanan ini

Selamat Datang Playboy! © Januari 2006

Negara ini sedang menggeliat, bukan karena baru saja terbangun dari mimpi buruk ketika hujan badai ditengah malam seperti dalam film-film horor yang kita tonton di bioskop 21, melainkan karena scabies yang menyerang hampir keseluruhan tubuh negara ini. Gatal yang menyerang hampir keseluruhan permukaan tubuh sepertinya tidak sanggup lagi dibendung oleh dua tangan yang memang sudah cacat sebelumnya yang disebabkan mengangkat drum-drum BBM. Harga barang yang membumbung tinggi sudah tidak sanggup lagi untuk dibeli, harga beras yang terus naik, pengangguran yang terus bertambah. Kapasitas otak yang terbatas, rumah sakit jiwa adalah tujuan akhirnya.

Memeluk guling dan menutup mata erat-erat, seperti fobia dengan komplikasi schizoprenia, fakta yang tidak bisa dibantah, pemerintah sepertinya ketakutan secara emosional untuk mengetahui kenyataan sebagian dari masyarakat kita dalam keadaan “sakit”. Moralitas bukan lagi berdasarkan pada norma-norma yang terdapat pada masyarakt melainkan lebih pada budaya hedonisme (baca: nafsu syahwat).

Krisis moral seperti arus bawah, bergerak tajam seiring krisis ekonomi yang terus-menerus menerpa sepanjang tahun negeri ini. Alasan popular yang sering dipakai untuk memenuhi kebutuhan mendesak hedonisme tersebut pada akhirnya adalah himpitan ekonomi. Krisis ini kurang mencuat ke permukaan karena krisis ekonomi yang lebih nyata lebih terekspos. Akhirnya penjahat-penjahat kelamin (pemilik modal dibidang esek-esek) dapat bergerak secara leluasa memanfaatkan situasi.

Playboy merupakan perusahaan penerbitan pemotretan pornografi bukan berdasarkan estetika yang disebut-sebut oleh artis-artis kita. Lucunya, setiap artis yang diwawancarai oleh televisi membenarkan secara sepihak bahwa pemotretan tersebut adalah hal-hal yang sah saja untuk dilakukan. Televisi pun meliput wawancara tersebut seakan-akan pemotretan sensual adalah dapat diterima masyarakat kita. Bila saja, kerajaan Playboy dapat berdiri dan membuka cabangnya di Indonesia, maka bersiaplah-siaplah generasi kedepan bangsa ini harus menghapus dalam buku-buku sejarah, budaya, nilai-nilai norma bangsa ini sebagai negara yang menjunjung nilai (moral) dan martabat leluhur. Itu khan dulu…

Artis-artis kita yang minim pengetahuannya tentang majalah PLAYBOY pun mulai berbicara dengan berbagai spekulasi moralitas, seakan-akan kebenaran moralitas bukanlah sebagai aturan yang telah dtetapkan Tuhan dalam kitab-kitab agama, melainkan opini publik semata terhadap benar-salah, boleh atau tidak. Ironisnya, bangsa ini sedang melawan terhadap praktek-praktek ekploitasi terhadap perempuan sepertinya impoten menghadapi isu krusial terhadap kerusakan moral generasi bangsa.

Sebuah email yang ditujukan kepada kami kutip; “moralitas bangsa ini tidak perlu diperdebatkan lagi, toh perempuan-perempuan Indonesia sudah tidak tabu lagi untuk tampil vulgar di majalah, televisi atau media lainnya. Tidak perlu munafik untuk menolak, nikmati saja…” Sementara di suatu tempat; sebuah website porno yang menikmati “situasi” masyarakat yang terbentuk oleh kebebasan seksual ini menulis secara persuasif dalam tampilan websitenya; “Hanya dengan 37 dollar pertahun Anda dapat menikmati tubuh mulus gadis-gadis remaja [beberapa negara dikawasan asia tenggara disebutkan]” Situs ini diperkirakan pemiliknya adalah turis asing yang sengaja berkunjung ke negara-negara asia dengan tujuan mengabadikan adegan intim dan beberapa photo wanita-wanita muda Asia yang begitu mudah untuk dijadikan model.

Model-model Asia dianggap paling murah tarif pemotretannya dibadingkan model atau artis Hollywood, bahkan tidak jarang dari model tersebut tidak pernah dibayar royaltinya. Samantha, bintang film dan majalah porno di Amerika mendapatkan royalti sebesar 500 juta dollar dalam setahun dari hasil penjualan majalah, kalender, website dan berbagai pernak pernik seks lainnya. Sebuah angka fantastis untuk sebuah nilai estetika. Terus terang saya bingung, inikah yang disebutkan sebagai hasil karya seni yang disebut-sebut oleh “budayawan-budayawan” Indonesia mengandung nilai artistik dan estetika? Apakah “benda seni” itu dapat dipampang di rumah-rumah? Isunya, budaya itu berasal dari kata budi dan akal, entahlah, nilai-nilai ini semakin jauh saja dari seniman karbitan yang dibentuk nafsu syahwat.

Televisi pun ikut bertanggungjawab terhadap pembentukan moral syahwat generasi muda Indonesia, hampir setiap hari tontonan vulgar yang mengumbar perilaku tak senonoh pun dikupas secara gamblang, pendidikan moralitas didapatkan hampir seluruh anak Indonesia dari televisi. Dimulai dari sinetron, liputan, sampai pada berita-berita aktual lainnya. Semuanya dibungkus atas nama realitas masyarakat yang perlu disampaikan kepada pemirsa. Sebuah pendidikan murah tanpa perlu membayar SPP.

Banyak artis memberi tanggapan positif atas rencana penerbitan Playboy di Indonesia, sayang sekali pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh wartawan pun terpola pada pembenaran pembentukan ideologi syahwat di Indonesia yang penduduknya mayoritas beragama Islam ini. Mereka tidak jujur terhadap diri mereka sendiri, walaupun sang artis ok-ok saja majalah porno dapat beredar di Indonesia, akan tetapi apakah ia akan tetap mengatakan setuju bila anaknya kelak tampil bugil di majalah tersebut? Menariknya, bila sang pewancara dapat menanyakan pada sang artis, “bagaimana bila istri Anda kami photo bugil?” Marah? Aneh khan bila ia setuju mengatakan boleh saja majalah porno dapat beredar bebas di negara ini. Jangan heran bila anak-anak kita kelak berteriak bersama teman-temannya, “Eh, ibu gue tampil di Playboy!!” Atau bahkan anak kita bermasturbasi di depan gambar bugil orangtuanya!!! Mengerikan! Sebuah dampak realita yang akan sangat sulit diungkapkan oleh media kita akan pelbagai dampak negatif kerusakan moral bangsa kedepan.

Playboy merupakan majalah porno yang paling terkenal, pengelola majalah ini memiliki istana sendiri yang disebut dengan mansion, tempat pemotretan, setting yang dimilikinya pun begitu luas, sehingga pesta-pesta selalu dilakukan ditempat mansion. Persertanya adalah playmate (model utama dalam setiap edisi bulanan), dan tokoh-tokoh penting lainnya yang mempunyai pengaruh terhadap majalah tersebut. Pestanya sudah dapat ditebak, seks liar! Pemilik mansion menyediakan tempat-tempat berkencan dengan model atau bunnygirls (gadis-gadis yang memakai baju kelinci sesuai dengan lambang dari majalah tersebut yang bertugas melayani dan menyediakan makanan tamu-tamu yang hadir). Inikah yang disebut sebagai budaya itu? Apakah kita sadar bila mengijinkan Playboy dapat mengibarkan mansion di negara ini?

Bila Anda mengunjungi website Playboy, maka Anda tidak akan pernah menemukan seni photografi disana, beberapa model memamerkan porselennya, berupa kendi-kendi purba dengan ukuran besar, lucunya di negara kita malah mengatakan bahwa ini sebuah kebebasan berekspresi. Inilah stigma yang terus menerus dimunculkan oleh para seniman dan artis kita, diluar sana, para TKI mendapat julukan “barang 50 dinar” atau dikenal dengan sebutan “abu sarmud” dan banyak dari mereka mengalami pelecehan seksual ataupun percobaan perkosaan karena citra ini dibentuk oleh bangsa kita sendiri, anehnya lagi banyak Abu Syahwat dinegeri berteriak anti UU pornografi dan pornoaksi sebagai perjuangan demokrasi dan hak-hak kaum wanita. Buka matalah, bersihkan telinga!

Bisa dibayangkan bila Playboy beredar Indonesia, dalam setiap edisi bulanannya terdapat 4 model yang berpose bugil, dan ini tidak masuk hitungan beberapa model amatir yang mencoba mengirim photo bugilnya ke majalah Playboy agar dapat menjadi model playmates, maka bila dikalikan dengan 12 kali edisi penerbitan ada 48 model Indonesia yang akan ditelanjangi oleh Playboy, coba Anda kalikan bila beberapa majalah porno lain nantinya yang akan berkibar di negara kita nantinya…

Sayed Muhammad adalah lulusan psikologi Universitas Islam Indonesia, ia adalah perintis dan penulis tetap di website Pikirdong. Pernah mengajar mata kuliah Psikologi Pendidikan di STAIN Malikussaleh, kini bekerja lepas sebagai desainer dan photographer

Leave a Reply

Be the First to Comment!

avatar
  Subscribe  
Notify of