Dec 3, 2015 - The Thinker    No Comments

Memanjat Pohon Kurma

Diantara banyak pertemuan diskusi yang terjadi, hal yang paling membekas diskusi saya dengan istri pada waktu itu adalah mengenai Kitab Kidung Agung, saat itu ia menunjukkan sebuah puisi yang indah ditulis tangan dan menyuruh saya membacanya. Selesai saya membaca puisi itu, ia berkata; “Indah, bukan? Itu adalah ayat dalam Alkitab.”. Saya sontak terkejut dan membaca kembali, kembali, dan kembali.

Ia menjelaskan bagaimana Alkitab menyetujui sebuah hubungan pasangan lelaki dan perempuan dengan penuh cinta. Menurutnya, hubungan cinta yang direstui Tuhan sebagaimana seorang yang sedang jatuh cinta digambarkan dalam Alkitab mengekspresikan cinta dalam ayat-ayat tersebut. Ia menjelaskan bahwa Kristen sangat mengerti akan kebutuhan cinta diantara sesama manusia ini, hingga ada ayat-ayat yang menggambarkan ekspresi cinta manusia dalam sebuah kitab suci; Alkitab.

Mari kita membacanya;

Betapa indah langkah-langkahmu dengan sandal-sandal itu, puteri yang berwatak luhur! Lengkung pinggangmu bagaikan perhiasan, karya tangan seniman.

Pusarmu seperti cawan yang bulat, yang tak kekurangan anggur campur. Perutmu[ timbunan gandum, berpagar bunga-bunga bakung.

Seperti dua anak rusa buah dadamu, seperti anak kembar kijang.

Lehermu bagaikan menara gading, matamu bagaikan telaga di Hesybon, dekat pintu gerbang Batrabim; hidungmu seperti menara di gunung Libanon, yang menghadap ke kota Damsyik.

Kepalamu seperti bukit Karmel, rambut kepalamu merah lembayung; seorang raja tertawan dalam kepang-kepangnya.

Betapa cantik, betapa jelita engkau, hai tercinta di antara segala yang disenangi.

Sosok tubuhmu seumpama pohon korma dan buah dadamu gugusannya.

Kataku: “Aku ingin memanjat pohon korma itu dan memegang gugusan-gugusannya. Kiranya buah dadamu seperti gugusan anggur dan nafas hidungmu seperti buah apel.

Kata-katamu manis bagaikan anggur!” Ya, anggur itu mengalir kepada kekasihku dengan tak putus-putusnya, melimpah ke bibir orang-orang yang sedang tidur!

Kepunyaan kekasihku aku, kepadaku gairahnya tertuju.

Mari, kekasihku, kita pergi ke padang, bermalam di antara bunga-bunga pacar!

Mari, kita pergi pagi-pagi ke kebun anggur dan melihat apakah pohon anggur sudah berkuncup, apakah sudah mekar bunganya, apakah pohon-pohon delima sudah berbunga! Di sanalah aku akan memberikan cintaku kepadamu!

Semerbak bau buah dudaim; dekat pintu kita ada pelbagai buah-buah yang lezat, yang telah lama dan yang baru saja dipetik. Itu telah kusimpan bagimu, kekasihku!

Kidung Agung dalam Alkitab Online [Link]

Puisi itu begitu bagus, akan tetapi justru membuat saya semakin penasaran dengan ayat-ayat tersebut, dan menggoda saya untuk bertanya lebih banyak kepada istri saya itu, benarkah itu dalam kitab suci Alkitab? Lalu ia menunjukkan ayat-ayat tersebut dalam Alkitab yang selalu dibawanya.

Berkaitan dengan surat tersebut, membuat saya bertanya, apakah Alkitab itu sebenarnya? Benarkah berisikan semua firman Tuhan didalamnya? Lalu kenapa ada ayat rayuan berbau porno didalamnya? Benarkah Tuhan membuat rayuan tersebut untuk diikuti oleh umatnya? Terlepas maksud bentuk dari pujian kepada pengantin, apakah ayat tersebut telah diilhami Ruhul Kudus?

Silahkan dibaca lagi:

Sosok tubuhmu seumpama pohon korma dan buah dadamu gugusannya.

Kataku: “Aku ingin memanjat pohon korma itu dan memegang gugusan-gugusannya. Kiranya buah dadamu seperti gugusan anggur dan nafas hidungmu seperti buah apel.

Bagaimana bila ayat-ayat tersebut dibaca oleh generasi muda, terutama anak-anak yang mengandrungi puisi-puisi cinta? Apakah ini sebuah pendidikan seks secara dini dan vulgar? Pelbagai jawaban yang diberikan istri saya pada waktu itu tidak membuat saya puas, dan sampai saat ini saya terus mencari jawab-jawaban yang bisa memuaskan saya terhadap keingintahuan saya tentang ayat-ayat diatas.

Saya menemukan sebuah website dimana semua isu dan permasalahan debat Islam dan Kristen yang mencoba menjawab isu-isu tersebut, Sarapan Pagi, menjadi sebuah “pegangan” orang Kristiani dalam menjawab pelbagai isu yang dilontarkan oleh orang Islam;

Ayat-ayat dalam Kidung Agung itu adalah ayat-ayat yang sulit karena menggunakan gaya bahasa yang sangat simbolis. Kita harus membaca setiap kata dan setiap kalimat dengan hati-hati untuk bisa menemukan arti rohaninya.

Bahasa lambang, ‘metonimia’, sinekdoke’ ‘simile’, ‘metafora’ dan sebagainya itu tidak mudah dipahami. Untuk memahaminya musti lewat tiga tahap: pertama konteks, kedua konteks, dan ketiga konteks. Tidak ditelan mentah-mentah.

Isi kitab Kidung Agung menunjukkan pujian Cinta Kasih yang setia antara pengantin laki-laki dan pengantin wanitanya, menunjukkan penghargaan akan perkawinan yang suci (Badingkan juga dengan Mazmur pasal 45).

Dalam Kidung Agung digambarkan keindahan dan kesucian cinta kasih suami istri dengan menggunakan kata-kata yang gamblang.

Kutipan: PUISI KENIKMATAN CINTA: Rayuan Sex ala Alkitab [Link]

Baiklah, silahkan temukan makna dalam ayat tersebut secara positif yang menggambarkan sebuah bentuk kesucian cinta bila itu adalah ayat dalam sebuah kitab suci;

Sosok tubuhmu seumpama pohon korma dan buah dadamu gugusannya.

Kataku: “Aku ingin memanjat pohon korma itu dan memegang gugusan-gugusannya. Kiranya buah dadamu seperti gugusan anggur dan nafas hidungmu seperti buah apel.

Dan, lihat juga; Bagaimana ayat-ayat yang telah diubah agar tidak berkesan vulgar;

Kidung Agung 1:2

TB (1974) ©  –Kiranya ia mencium aku dengan kecupan! Karena cintamu b  lebih nikmat dari pada anggur, c
AYT Draft Ciumlah aku dengan ciuman, karena cintamu lebih baik daripada anggur.
TL (1954) © Hendaklah dikucupinya aku dengan kucup mulutnya, karena cumbuanmu itu terlebih sedap dari pada air anggur.
BIS (1985) © Ciumilah aku dengan bibirmu; cintamu lebih nikmat dari anggur!
MILT (2008)  “Biarlah dia mencium aku dengan kecupan mulutnya! Sebab, cintamu lebih baik daripada anggur.

Clip

 

 

Link disini

 

PENUTUP

Diskusi diatas cukup membekas bagi saya, beberapa pertanyaan lain yang sempat saya ajukan adalah, bagaiaman mungkin ia memanjat pohon kurma ia menemukan buah anggur dan apel? Kenapa justru payudara digambarkan sebuah gugusan buah anggur bukan buah kurma? Apakah karena bentuk buah kurma lebih jelek dibandingkan buah anggur? Inikah metafora yang disebut itu?

Got anything to say? Go ahead and leave a comment!