Celoteh

Awak Orang Indon Ke?

Tahun 1997 ketika itu saya lagi kemaruk-maruknya chatting dengan menggunakan mIRC, sebuah pelayanan relai chat yang dapat menghubungkan dengan berbagai server chatting yang ada di seluruh dunia, secara tak sengaja saya berkenalan dengan orang Malaysia, dalam pembicaraan tersebut (private message) orang Malaysia tersebut mengetik; Awak orang indon ke? Karena pada saat itu saya belum begitu mengenal istilah-istilah chat, saya memberanikan menanyakan apa itu indon? Beberapa menit kemudian saya menerima balasan; Indonesia. Pikiran saya menerawang jauh, bagaimana mungkin Indonesia dapat menjadi sebuah singkatan umum yang dikenal dengan indon? Padahal setahu saya saat itu singkatan internasional untuk Indonesia dikenal INA dan bukan IND yang merupakan singkatan untuk India. Lalu saya kembali menanyakan pada teman baru chat saya itu dengan pertanyaan singkat, ” Kenapa Indon?” Teman saya itu menjawab bahwa terlalu panjang untuk menulis nama Indonesia dalam chatting. Saya memahaminya saat itu chat memang membutuhkan jawaban yang singkat dan cepat agar teman chat baru tidak terburu tidur sebelum kita menyelesaikan tulisan yang selengkapnya.

Awak Orang Indon Ke? © September 2007

Bulan lalu, saya dikejutkan dengan sebuah news ticker yang menyebutkan bahwa Metro tv melakukan protes keras secara tidak langsung terhadap sebutan “indon” yang semakin meluas di masyarakat Melayu untuk sebutan kepada TKI (Tenaga Kerja Indonesia). Praktik rasisme yang dilakukan oleh masyarakat Malaysia ini telah menimbulkan gelombang protes di tanah air. Penggunanan kata indon dianggap sebagai sebagai bentuk pengkhianatan Malaysia sebagai negara bertetangga dan persaudaraan serumpun.

Kalau dipikir lebih seksama, apakah istilah indon itu berawal dari komunitas chatter yang tanpa sengaja tercipta tanpa bermaksud sebagai bentuk rasisme ataukah memang istilah tersebut sengaja dimunculkan sebagai penilaian stereotype kepada rakyat Indonesia baik di perantauan Malaysia atau di tanah air. Kenapa istilah tersebut dapat muncul menjadi sebuh bentuk tindakan rasis? Mungkin anthroplog sedang memikirkan jawaban ini, atau barangkali pada peneliti hubungan internasional pun sibuk membuka asal muasal kemunculan istilah tersebut, dipikir atau tidak dipikir istilah tersebut telah tertanam dalam otak orang-orang Malaysia yang kemudian bak virus Ebola seperti kemunculannya pertama sekali di Zaire (1995) menyebar massive layaknya virus indon pada yang terjadi secara terbuka di Malaysia.

Mungkin saja, orang-orang Malaysia mulai kesal dengan sikap dan perilaku orang-orang kita yang setiap tahunnya secara terus-menerus mengekspor beribu-ribu kontainer asap ke negeri tetangga tersebut, mungkin bangsa (pemerintah) Indonesia “pendek antena” dengan menganggap permasalahan asap tersebut bukanlah masalah krusial di tanah air, buktinya Indonesia adem-adem saja ketika beberapa kali Malaysia mengeluh permasalahan tersebut, dan perlu di catat, Pemerintah Malaysia dengan terpaksa mengeluarkan dana yang seharusnya tidak perlu untuk melindungi warganya akibat kepulan asap terhadap kesehatan warganya. Kebalikannya, Pemerintah Daerah Riau pernah “keceplosan” mengatakan bahwa asap tidak mempunyai pengaruh buruk terhadap pernafasan dan kesehatan seperti yang pernah diliput oleh Metrotv tahun lalu. Ya, mungkin saja orang-orang Indonesia yang kerap diterpa musibah ini sudah menganggap segala sesuatu sebagai perwujudan “ketabahan” terhadap musibah ―menganggap asap sudah menjadi bagian dari hidup, dan memburuknya kesehatan warga tak lain diakibatkan oleh takdir yang sudah berlaku. Pemerintah sangat memaklumi statement seperti ini.

Menurut kabarnya ada 200.000 ribu tenaga kerja Indonesia berada di Malaysia, jumlah ini diperkirakan sangat tidak sebanding dengan jumlah tenaga kerja yang ilegal, pemerintah Malaysia merasa “terusik” dengan meningkatnya imigran gelap di negaranya, puluhan ribu “pendatang haram” ini telah dikembalikan ke Indonesia, dan lagi, pemerintah tidak konsen terhadap masalah ini, tidak ada antisipasi dan proaktif pemerintah untuk menyediakan lapangan kerja yang lebih luas di dalam negeri dan tentunya dengan gaji yang layak, membuat orang-orang Indonesia secara terus-menerus menggali mimpi di negeri orang. Pemerintah Malaysia merasa jumlah pendatang pencari kerja yang jumlahnya sangat besar dari Indonesia menjadi sebuah ancaman treat keamanan dari dalam negeri, sama halnya ketakutan Indonesia terhadap seperatisme, Malaysia juga merasa adanya ancaman chaos bila tenaga kerja dari Indonesia dalam jumlah besar. Shock therapy berupa perlakuan-perlakuan yang tidak manusiawi pun kerap dilakukan oleh polisi-polisi Malaysia terhadap pendatang gelap yang tertangkap basah di wilayah Malaysia, bahkan sweeping terhadap tenaga kerja ilegal pun semakin ketat dilakukan. Akibatnya korban semakin bertambah akibat budaya bar-bar ini, terakhir Ceriyati sampai pada Donald Luther Kolopita, wasit karate Indonesia.

Pelbagai permasalahan lain Indonesia-Malaysia seperti Malaysia yang mencaplok beberapa pulau Indonesia dengan terang-terangan, Ambalat dan Sipadan membuat hubungan kedua negara ini semakin memburuk, gerakan anti Malaysia semakin menggema di tanah air seperti ulangan sejarah tahun 1950an di era Soekarno dulunya, “Ganyang Malaysia”. Akan tetapi Malaysia tahu betul seperti apa Indonesia, buktinya hal tersebut ditanggapi dingin-dingin saja oleh Pemerintahan Malaysia. Bahkan terakhir kalinya garis batas antara perbatasan Malaysia-Indonesia di Kalimantan terus bergeser lebih dalam ke wilayah Indonesia. Masih saja mereka melebarkan wilayahnya secara ilegal dengan mencaplok wilayah RI. TNI tidak perlu merasa minder walaupun Malaysia sebagai salah satu negara Commonwealth Inggris, harus berani bersikap tegas dengan kesewenang-wenangan Malaysia, harga diri kita sudah tidak berarti lagi, 50 juta masyarakat Indonesia siap berada dibalik TNI dan bersama-sama melakukan perlawanan, (hanya saja moncong senjata tidak diarahkan lagi untuk rakyat, Bung!). Saatnya TNI unjuk kebringasan dibanding hanya berani menembak masyarakat sendiri.

Tidak hanya masyarakat Malaysia yang sebenarnya menyebut orang-orang Indonesia dengan sebutan “indon”, Singapura juga mulai latah dengan tindakan merendahkan martabat orang-orang Indonesia walaupun tidak seekstrim dibandingkan Malaysia. Beberapa pusat perbelanjaan telah berubah menjadi tempat “indon” berkumpul, demikian cerita dari seseorang yang pernah hidup di Singapura bertahun-tahun, menurutnya, penduduk pribumi disana (Singapore) merasa enggan untuk berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan tersebut dikarenakan banyaknya TKI Indonesia berkumpul (mejeng, konkow) disitu yang mereka anggap sebagai orang-orang “norak”.

Mungkin kalo kita bercermin kembali dan melakukan flash back ke masa kecil, ketika masih kanak-kanak kita kerab mencela teman sepermainan berdasarkan sikapnya yang sedikit menyeleneh atau karena bentuk fisiknya agak unik dibandingkan dengan anak-anak normal lainnya, lihatlah, mungkin anak-anak akan suka memanggil orang lain dengan teriakan botak (botak, botak!) kepada teman atau orang lain yang kebetulan memangkas rambutnya terlalu pendek. Apakah gelar tersebut akan terus bertahan selamanya? Tentunya tidak dengan seiring memanjangnya rambut, julukan tersebut perlahan hilang.

Jadi betapa pun kita gencar berteriak di kuping orang-orang Malaysia untuk menghapus kata-kata “indon” di dalam memori mereka, gelar tersebut sudah terlanjur tertanam yang terus menjalar keseluruh syaraf otonom mereka, tergantung kapan di goreng jadi kerupuk ubi, istilah tersebut dapat saja muncul kembali sebagai pemuas nafsu mereka yang semakin tamak, hanya satu cara untuk itu, jangan jadi bangsa yang inferior! Tingkat pembangunan, jadilah bangsa yang besar, agar kita tidak menjadi olok-olokan bangsa lain. Pedulikah Anda, sampai suatu saat mereka bertanya pada anak cucu kita kembali; “awak orang indon ke?”

Sayed Muhammad adalah lulusan psikologi Universitas Islam Indonesia, ia adalah perintis dan penulis tetap di website Pikirdong. Pernah mengajar mata kuliah Psikologi Pendidikan di STAIN Malikussaleh, kini bekerja lepas sebagai desainer dan photographer

Leave a Reply

Be the First to Comment!

avatar
  Subscribe  
Notify of